Langsung ke konten utama

MA'RIFATULLAH (Bagian 2)

 Hubungan Antara Sholat & Ru'yatullah (Melihat Allah)

Salah satu prinsip aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah pasti dari al-Qur’an dan as-Sunnah adalah keyakinan bahwa kelak para penduduk surga akan melihat Allah dalam keindahan dan keagungan-Nya yang Mahasempurna, dan itu merupakan puncak kenikmatan surga yang senantiasa dirindukan oleh para penghuninya, kenikmatan yang mengalahkan segenap kenikmatan surga lainnya. Banyak sekali dalil-dalil mutawatir yang menegaskan bahwa Ru’yatullâh (kenikmatan melihat
Allah) tersebut, terjadi dengan mata kepala para penduduk surga, bukan ilustrasi apalagi ilusi sebagaimana pendapat orang-orang yang menyimpang.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ – قَالَ – يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ – قَالَ – فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

“Manakala para penduduk surga telah memasuki surga, Allah lantas berfirman kepada mereka: "Apa kalian ingin tambahan (nikmat)? Aku akan tambahkan buat kalian". Maka mereka berkata: "Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?", Rasulullah SAW lalu mengatakan: "Maka disingkaplah hijab (lalu Allah menampakkan Wajah-Nya yang mulia), sungguh tidaklah mereka dianugerahi suatu nikmat yang lebih mereka cintai dibandingkan dengan kenikmatan memandang Wajab Rabb mereka azza wa jalla.” (Shahih Muslim: 181).

Ini penglihatan para penduduk surga di akhirat kelak. Adapun di dunia, sejatinya orang-orang mukmin yang telah mencapai derajat muhsin, pun bisa melihat Allah dengan hati mereka. Tentu saja bukan melihat Dzat atau Wajah-Nya, sebagaimana yang dianugerahkan khusus bagi penduduk surga di akhirat kelak. Akan tetapi dengan seolah-olah “melihat” Allah selalu hadir dalam setiap tindak-tanduk kita, dalam segenap amal ibadah kita. Sehingga totalitas ibadah benar-benar murni hanya untuk-Nya, dan benar-benar terwujud sesuai dengan keinginan-Nya pula.

Jibril ‘alaihissalâm pernah bertanya kepada Rasulullah SAW di hadapan para Sahabatnya tentang hakikat derajat al-Ihsan, beliau lantas menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Hakikat al-Ihsan adalah saat engkau beribadah kepada Allah dan merasa seolah-olah melihat-Nya, namun jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia senantiasa melihatmu.” (Shahih Muslim: 8)

Solat, Momentum Terbaik untuk “Melihat” Allah.

Rasulullah SAW selalu menjadikan Solat sebagai penyejuk mata hati beliau. Saat penat dan kelelahan dunia melanda, beliau menjadikan Solat sebagai wahana bagi hati beliau untuk bertamasya menikmati keindahan Sang Khaliq. Tidak heran jika beliau berkata kepada Bilal, ketika memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan Solat :

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا

“Wahai Bilal, dirikanlah sholat, istirahatkan kami dengannya.” (Sunan Abi Dawud: 4985).

Ini dikarenakan Solat adalah momentum untuk “bertemu” dengan Allah, melihat keindahan-Nya, menikmati rahmat dan kasih sayang-Nya. Di sinilah mata hati beliau benar-benar melihat Allah. Sampai-sampai telapak kaki yang memerah karena lamanya berdiri dalam Solat, tidak terasa sakit, justru terasa manis bagi Rasulullah SAW.

Karena memang, ibadah Solat punya keterkaitan yang erat dengan Ru’yatullah. Syaikh Prof. DR. Abdurrazzaq al-Badr mengungkapkan keterkaitan tersebut dengan kalimat yang indah, beliau m
engatakan:

فمن كان من أهل الصلاة فهو حري بهذا المن العظيم ، ومن كان مضيعا لها فهو حري بالحرمان وأهل للخسران

“Orang-orang yang menegakkan Solat (dengan sebenar-benarnya), mereka berhak atas anugerah yang teramat agung ini (yaitu: Ru’yatullah), dan siapa saja yang menyia-nyiakan ibadah Solat ini, maka dia pun pantas untuk terhalang darinya dan tergolong ke dalam orang-orang yang merugi.”

*Sumber Bacaan: “ash-Shilah baina ash-Sholat wa Ru’yatillah”, Syaikh Prof. DR. Abdurrazzaq al-Badr.

Komentar

Popular Posts

RAHASIA DIBALIK USIA 40 (Menyingkap Rahasia Nubuwwah Rasulullah SAW)

Rahasia umur Muhammad saat nubuwah, mulai tersingkap sedikit demi sedikit. Mengapa Nabi Muhammad SAW. mengemban misi kenabian saat beliau berusia 40 tahun? Dan bukannya usia 30 atau 35, puncak kehebatan [fisik] manusia? Mengapa harus 40 tahun? saat fisik sudah berada di jalur turun, ibarat naik roll coster, 0-39 th adalah ketika kereta merambat naik, lalu di usia 40 lah si kereta roll coster mencapai puncak rel dan kemudian meroket turun.

Pengertian Dekat Kepada Allah

Kita sudah maklum bahwa Allah s.w.t. adalah dekat dengan kita. Tetapi hamba-hamba Allah yang shaleh merasakan bahwa mereka dekat dengan Allah SWT. Bagaimana pengertian hal keadaan ini, tentu saja kita ingin mempelajarinya. Maka dalam hal ini yang mulia Maulana Ibnu Athaillah Askandary telah mengungkapkannya dalam Kalam Hikmah beliau sebagai berikut: "Dekat anda kepada-Nya ialah bahwa anda melihat dekatNya. Jika tidak (demikian), maka di manakah anda dan di manakah wujud dekat-Nya? Kalam Hikmah ini sepintas lalu agak sulit difahami dan dimengerti, karena itu marilah kita jelaskan sebagai berikut: A. Pengertian "dekat Allah SWT dengan kita" ialah dekat pada ilmu, pada kekuasaan (qudrat) dan pada kehendak (iradah). DekatNya Allah dengan kita pada 'Ilmu', artinya segala sesuatu apa pun yang terdapat pada kita dan yang terjadi pada kita, lahir dan bathin, semuanya diketahui oleh Allah SWT dengan IlmuNya sejak azali, artinya sejak alam mayapada ini be...

Kisah Salman Al-Farisi Menjadi Penjamin Pembunuh

Suatu hari, Sayyidina Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu. Tiba-tiba datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka. Ketika sudah berhadapan dengan Sayyidina Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata : “Tegakkanlah keadilan untukku, wahai Amirul Mukminin!” “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”. Sayyidina Umar segera bangkit dan berkata : “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda? ”Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata : “Benar, wahai Amirul Mukminin.” “Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Sayyidina Umar. Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya : “Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muamalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, aku ikat untaku pada sebuah poh...