Langsung ke konten utama

DOA IMAM ALI R.A.

Ya Allah, peliharalah kehormatan wajahku dengan kecukupan. Jangan jatuhkan mastabatku dengan kemiskinan, sehingga aku terpaksa mengharap rizki dari manusia yang justru mengharapkan rizki-Mu. Atau memohon belas kasihan hamba-hamba-mu yang jahat. Atau tertimpa bala' dengan memuji siapa yang memberiku atau mencela siapa yang menolakku. Sedangkan Engkau dibalik semuanya itu yang sebenarnya memberi dan menolak. Sesungguhnya Engkau Yang Mahakuasa atas segalanya...


Allahumma, Ya Allah, Engkaulah yang paling dekat menghibur para wali-Mu, yang paling menjamin kecukupan bagi siapa saja yang bertawakal kepada-Mu. Engkau melihat kelubuk hati mereka, menembus jauh dalam nurani mereka dan mengetahui kedalaman perasaan mereka. Semua rahasia mereka terbuka di hadapan-Mu. Bila menderita keterasingan, mereka segera terhibur dengan sebutan-Mu. Dan bila tercurah atas mereka aneka ragam musibah, merekapun berlindung kepada-Mu. Mereka benar-benar menyadari bahwa kendali segalanya berada di tangan-Mu sebagaimana kemunculan berasal dari ketentuan-Mu.

Allahumma, bila aku tak mampu mengutarakan permohonanku, atau tak kuasa melihat keinginanku, tunjukkan aku sesuatu yang akan mendatangkan sejauh maslahat bagiku. Sebab, semuanya itu tak mengherankan diantara jalan hidayah-Mu, bukan pula sesuatu yang baru di antara kemampuan-Mu.

Allahumma, perlakukanlah diriku dengan kemampuan-Mu, dan jangan perlakukan daku dengan keadilan-Mu.

(Mutiara Nahjul Balaghah)

Komentar

Popular Posts

Kisah Syam'un Al-Ghazi dan Lailatul Qadr

Kisah tentang 1000 bulan, berawal dari seorang Nabiyullah yang bernama Nabi Syam’un al-Ghazi as. Nabi dari kalangan Bani Israil. Beliau adalah hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno. Nabi Syam’un al-Ghazi As, memiliki beberapa nama, dalam bahasa Arab, beliau disebut dengan Syamsyawn atau Syam'un.  Dalam bahasa Ibrani, disebut Šimšon, dalam bahasa Tiberias, disebut Šhimšhôn; dalam Alkitab Nasrani, disebut Samson.  Nama Syam’un sendiri artinya:  "Yang berasal dari matahari”,  Sedangkan Al-Ghozi, artinya:  “Yang berasal dari Ghazi”  (Ghaza, Palestina sekarang). Suatu ketika Nabi Muhammad saw, Berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan.  Nabi Muhammad SAW, terlihat tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya:  “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah”. Rosululloh menjawab:  Diperlihatkan kepadaku dihari akhir, ketika seluruh manusia dikumpulkan dipadang mah’syar, ada seorang ...

Kisah Salman Al-Farisi Menjadi Penjamin Pembunuh

Suatu hari, Sayyidina Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu. Tiba-tiba datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka. Ketika sudah berhadapan dengan Sayyidina Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata : “Tegakkanlah keadilan untukku, wahai Amirul Mukminin!” “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”. Sayyidina Umar segera bangkit dan berkata : “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda? ”Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata : “Benar, wahai Amirul Mukminin.” “Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Sayyidina Umar. Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya : “Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muamalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, aku ikat untaku pada sebuah poh...

Al-Hikam: Interaksi Ubudiyah Dan Rububiyah

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary : ”Bila anda ingin dilimpahi anugerah-anugerah, maka benarkanlah kefakiranmu dan rasa butuhmu di hadapanNya." ”Sesungguhnya sedekah-sedekah  itu hanya bagi orang-orang yang fakir.” (At-Taubah 60). Apa yang dimaksud dengan meluruskan dan membenarkan kefakiran dan rasa butuh itu? Maknanya adalah menguatkan keduanya dalam dirimu, hingga sampai pada tingkat rasa yang kuat dalam seluruh waktu dan keadaan. Jika belum bisa, anda harus meyakini bahwa dua sifat tersebut akan selalu ada dalam eksistensi anda, karena secara esensial sifat fakir dan butuh itu selalu ada padamu. Menurut Syeikh Zarruq hal ini harus diwujudkan dengan: Megukur bahwa diri anda sesungguhnya tiada. Mewujudkan hal itu secara rinci dalam kondisi anda. Bahwa dalam gerak atau diam, tetap saja ketiadaan anda menjadi bukti. Selebihnya siapa yang benar kefakirannya maka ia berhak mendepatkan sedekah dari Allah Azza wa-Jalla berupa anugerah-anugerahNya. ...