Langsung ke konten utama

FUTUHAL GHAIB

Syeikh Abdul Qodir al-Jilani menjelaskan:

"Ketahuilah bahwa manusia ini ada dua macam :

1. Mereka yg dikaruniai Allah perkara2 yg baik didunia ini.

2. Mereka yg diuji oleh Allah dengan apa yg ditakdirkan Allah untuk mereka.

Mereka yg mendapatkan perkara2 yg baik itu belum tentu terlepas dari dosa & kekhilafan didalam menikmati karunia Allah tersebut.

Orang2 ini ini merasa bangga dengan karunia itu, tiba2 datanglah takdir Allah berupa kesulitan & malapetaka yg menimpa diri, keluarga atau harta benda mereka.

Demikian mereka merasa sedih & berputus asa, mereka lupa kepada kebanggaan & kebahagiaan yg mereka nikmati dahulu.

Jika mereka diberi kekayaan & keselamatan, maka merekapun lupa seolah2 mereka menduga bahwa keadaan itu adalah kekal. & jika mereka ditimpa malapetaka, merekapun lupa akan kebaikan yg pernah mereka terima dahulu seakan-akan kebaikan itu tidak pernah ada.

Semua ini menunjukkan kejahiliahnya atau kebodohanya tentang tuanya yg sebenar-benarnya yaitu Allah SWT.

(Futuhal Ghaib)

Komentar

Popular Posts

Kisah Syam'un Al-Ghazi dan Lailatul Qadr

Kisah tentang 1000 bulan, berawal dari seorang Nabiyullah yang bernama Nabi Syam’un al-Ghazi as. Nabi dari kalangan Bani Israil. Beliau adalah hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno. Nabi Syam’un al-Ghazi As, memiliki beberapa nama, dalam bahasa Arab, beliau disebut dengan Syamsyawn atau Syam'un.  Dalam bahasa Ibrani, disebut Šimšon, dalam bahasa Tiberias, disebut Šhimšhôn; dalam Alkitab Nasrani, disebut Samson.  Nama Syam’un sendiri artinya:  "Yang berasal dari matahari”,  Sedangkan Al-Ghozi, artinya:  “Yang berasal dari Ghazi”  (Ghaza, Palestina sekarang). Suatu ketika Nabi Muhammad saw, Berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan.  Nabi Muhammad SAW, terlihat tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya:  “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah”. Rosululloh menjawab:  Diperlihatkan kepadaku dihari akhir, ketika seluruh manusia dikumpulkan dipadang mah’syar, ada seorang ...

METHODE PENJERNIHAN QOLBU

Alam semesta seisinya ini tidak ada artinya apa-apa dibanding dengan Allah. Berarti tidak ada sesuatu pun yang mampu menampung adanya Allah. Segalanya tidak bisa menjadi tempat semayamnya Allah, kecuali hati hamba-Nya yang beriman. Maka disanalah Allah bersinggasana.Hati orang yang beriman adalah Rumah Allah. Dan karena itu hati merupakan amanah Ilahi untuk kita jaga jangan sampai terkena kotoran dunia. Oleh sebab itu hati harus kita jaga, dirawat, dirias biar menjadi elok. Hati kita adalah ruang dimana pertemuan dialogis (munajad) antara hamba dan Rabb berlangsung.

ROBI'AH ADAWIYYAH

Rabi’ah yang sejak kecil rohaninya terbina dalam keluarga muslim dan kondisi sosialnya, membuatnya memilih hidup zuhud, setelah bebas dari budak. Kezuhudannya dapat dilihat dalam berbagai sikap hidup dan kata-katanya. Ketika sufyan al-tsauri menanyakan tentang hikmah, Rabi’ah menjawab, “Alangkah baiknya bagimu jika engkau tidak mencintai dunia ini”. Dan ketika ada temannya yang akan member rumah kepadanya, ia menolak dengan mengatakan: “Aku takut kalau-kalau rumah ini mengikat hatiku, sehingga aku terganggu dalam amalku untuk akhirat”. Dia juga member