Langsung ke konten utama

Al-Hikam: Antara Cahaya dan Wacana

”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah SWT kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”

Maksudnya, siapa yang memasuki hadirat Allah SWT, lalu masih memandang dirinya sendiri, ketika akan mengungkapkan apa yang berlaku padanya pada khalayak, berupa karomah-karomah dan yang lainnya, maka akan muncul panggilan dari alam hakikat:

”Hai! Anda menyebutkan sejumlah karomah-karomah? Sedangkan anda tidak menyebutkan kehinaan anda?”

Lalu orang ini akan berhenti, bahkan ia lari dari alam yang ia pandang, berganti gelisah dan tercekam, berganti dengan ketersembunyian yang senyap, menutup diri, dan inilah kondisi yang dialami oleh kaum yang berada di maqom zuhud, maqom ahli ibadah dan ahli wirid. Karena ia belum meraih kema’rifatan yang hakiki, sehingga masih muncul keakuan dan ego.

Sedangkan orang yang memandang hamparan kebajikan itu dari Allah SWT, mengamalkan apa yang telah dilimpahkan padanya, kembali kepada-Nya, dan segala hal yang dianugerahkan oleh-Nya, maka itulah saatnya ia mengungkapkan melalui bahasa lisannya, menjelaskan apa yang dari Tuhannya. Ia tidak tercekam dan segan ketika mengungkapkan, tidak peduli apakah ia dipuji maupun dihina. Bahkan ia tidak melihat dirinya, ia hanya memandang pengetahuan dari Allah Azza wa-Jalla yang tampak jelas di depan matanya. Demikian dijelaskan oleh Syeikh Zarruq dalam syarah Al-Hikam.

Pengungkapan wacana kebenaran bisa dengan ungkapan hakikat, namun belum tentu hakikat itu dialami oleh yang mengungkapkan. Itulah kondisi dalam diri para Ulama, para pemula dan penempuh. Namun ia tetap bisa memberikan makna faedah dan pengetahuan. Walaupun ia sendiri belum sampai pada hakikat itu.

Namun ada yang telah sampai ke wilayah hakikat dan kemandirian ruhani, itulah kondisi kaum ahli ma’rifat yang telah meraih keparipurnaan, dan ia mampu memberikan kekuatan pengaruh dalam jiwa umat.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary:

”Cahaya para ahli hakikat telah mendahului ucapan-ucapannya, maka sejauhmana pencerahan yang diterima, sejauh itu pula ungkapan muncul”.

Hikmah-hikmah yang muncul dari ahli hakikat kartena telah didahului oleh limpahan Cahaya dari Allah SWT, bukan sebaliknya, yang dilakukan oleh para  Ulama, beraksioma, berlogika baru menjurus pada pencarian cahaya.

Kaum ’arifin senantiasa merasukkan cahaya itu pada para pendengar hikmahnya, karena apa yang berada dalam qalbu, akan menyambung dengan qalbu-qalbu pendengarnya.

Bila hubungan dari hati ke hati yang disampaikan oleh ahli hakikat tidak sampai pada hati seseorang, maka hati orang itu pasti sedang tergelapkan, tersesatkan, seperti hati orang-orang kafir dan munafiq, ketika disampaikan cahaya hakikat mereka menolak, bahkan menentangnya. Hingga digambarkan mereka ini sampai menutup telinganya dengan jari-jarinya ketika ada kilatan-kilatan cahaya dari Allah SWT. Mereka menutup telinga hatinya.

Jari-jari dari tangan-tangan nafsunya bergerak untuk menutup diri dari hakikat-hakikat Ilahiyah. Bisa karena gengsi dan harga diri, bisa karena takabur dan ta’jub pada diri sendiri,  bisa karena takut jika hakikat kebenaran itu merasuki hatinya, ia akan kehilangan kekuasaan, nama besar dan simbol-simbolnya.

Dan bahkan ia menutup telinga hatinya karena iri dan dengki.

*Sumber Sufinews.com

Komentar

Popular Posts

Kisah Syam'un Al-Ghazi dan Lailatul Qadr

Kisah tentang 1000 bulan, berawal dari seorang Nabiyullah yang bernama Nabi Syam’un al-Ghazi as. Nabi dari kalangan Bani Israil. Beliau adalah hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno. Nabi Syam’un al-Ghazi As, memiliki beberapa nama, dalam bahasa Arab, beliau disebut dengan Syamsyawn atau Syam'un.  Dalam bahasa Ibrani, disebut Šimšon, dalam bahasa Tiberias, disebut Šhimšhôn; dalam Alkitab Nasrani, disebut Samson.  Nama Syam’un sendiri artinya:  "Yang berasal dari matahari”,  Sedangkan Al-Ghozi, artinya:  “Yang berasal dari Ghazi”  (Ghaza, Palestina sekarang). Suatu ketika Nabi Muhammad saw, Berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan.  Nabi Muhammad SAW, terlihat tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya:  “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah”. Rosululloh menjawab:  Diperlihatkan kepadaku dihari akhir, ketika seluruh manusia dikumpulkan dipadang mah’syar, ada seorang ...

Kisah Salman Al-Farisi Menjadi Penjamin Pembunuh

Suatu hari, Sayyidina Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu. Tiba-tiba datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka. Ketika sudah berhadapan dengan Sayyidina Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata : “Tegakkanlah keadilan untukku, wahai Amirul Mukminin!” “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”. Sayyidina Umar segera bangkit dan berkata : “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda? ”Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata : “Benar, wahai Amirul Mukminin.” “Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Sayyidina Umar. Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya : “Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muamalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, aku ikat untaku pada sebuah poh...

Al-Hikam: Interaksi Ubudiyah Dan Rububiyah

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary : ”Bila anda ingin dilimpahi anugerah-anugerah, maka benarkanlah kefakiranmu dan rasa butuhmu di hadapanNya." ”Sesungguhnya sedekah-sedekah  itu hanya bagi orang-orang yang fakir.” (At-Taubah 60). Apa yang dimaksud dengan meluruskan dan membenarkan kefakiran dan rasa butuh itu? Maknanya adalah menguatkan keduanya dalam dirimu, hingga sampai pada tingkat rasa yang kuat dalam seluruh waktu dan keadaan. Jika belum bisa, anda harus meyakini bahwa dua sifat tersebut akan selalu ada dalam eksistensi anda, karena secara esensial sifat fakir dan butuh itu selalu ada padamu. Menurut Syeikh Zarruq hal ini harus diwujudkan dengan: Megukur bahwa diri anda sesungguhnya tiada. Mewujudkan hal itu secara rinci dalam kondisi anda. Bahwa dalam gerak atau diam, tetap saja ketiadaan anda menjadi bukti. Selebihnya siapa yang benar kefakirannya maka ia berhak mendepatkan sedekah dari Allah Azza wa-Jalla berupa anugerah-anugerahNya. ...